EVALUASI SENSORI DAN PREFERENSI KONSUMEN TERHADAP NASI RENDANG BERBASIS GASTRONOMI MOLEKULER
DOI:
https://doi.org/10.61195/sages.v4i01.35Keywords:
Evaluasi Sensori, Gastronomi Molekuler, Nasi Rendang, Preferensi Konsumen, Uji HedonikAbstract
Kuliner tradisional Indonesia, khususnya rendang, tidak hanya berfungsi sebagai pemenuhan kebutuhan konsumsi, tetapi juga merepresentasikan identitas budaya dan kearifan lokal. Seiring perubahan preferensi konsumen yang semakin menekankan pengalaman sensori dan visual, pendekatan gastronomi molekuler menjadi salah satu strategi inovatif dalam pengembangan kuliner tradisional. Penelitian ini bertujuan menganalisis preferensi konsumen terhadap nasi rendang berbasis gastronomi molekuler dibandingkan dengan nasi rendang tradisional. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif melalui uji hedonik terhadap 30 panelis tidak terlatih dengan penilaian pada aspek warna, penampilan, rasa, aroma, dan tekstur menggunakan skala lima tingkat, kemudian dianalisis menggunakan ANOVA satu arah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nasi rendang berbasis gastronomi molekuler memperoleh tingkat penerimaan yang secara signifikan lebih tinggi pada aspek warna dan penampilan, dengan nilai rata-rata masing-masing 4,3 dan 4,9, dibandingkan nasi rendang tradisional yang masing-masing memperoleh nilai rata-rata 3,0 dan 2,8. Pada aspek rasa, kedua sampel menunjukkan tingkat kesukaan yang relatif setara dengan nilai rata-rata di atas 4,0. Sebaliknya, nasi rendang tradisional lebih disukai pada aspek aroma dan tekstur, dengan nilai rata-rata masing-masing 3,8 dan 4,7. Hasil ini menunjukkan bahwa gastronomi molekuler efektif meningkatkan daya tarik visual tanpa mengubah karakter rasa, tetapi aspek aroma dan tekstur yang bersifat familiar tetap berperan penting dalam membentuk preferensi konsumen.
Downloads
References
Abdullah, A. R. A. P. P. (2022). Gastronomi molekuler sebagai seni kuliner modern (Studi kasus: Namaaz Dining, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan) [Bachelor Thesis, Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti]. TIT Library. https://opac.iptrisakti.ac.id/index.php?p=show_detail&id=32268&keywords=
Delwiche, J. (2004). The impact of perceptual interactions on perceived flavor. Food Quality and Preference, 15(2), 137-146. https://doi.org/10.1016/S0950-3293(03)00041-7
Ernawati, H., & Prakoso, D. (2019). Consumer preferences for Indonesian food. Journal of Indonesian Economy and Business, 34(3), 280-293. https://doi.org/10.22146/jieb.52637
Ivanović, S., Galičić, V., & Pretula, M. (2008). Gastronomy as a science in the tourism and hospitality industry. In Management of the Product Life Cycle and Competitiveness on the Tourist Market (pp. 571-585).
Lawless, H. T., & Heymann, H. (2010). Sensory evaluation of food: Principles and practices (2nd ed.). Springer. https://doi.org/10.1007/978-1-4419-6488-5
Spence, C., Harrar, V., & Piqueras-Fiszman, B. (2012). Assessing the impact of the tableware and other contextual variables on multisensory flavour perception. Flavour, 1(7), 1-12. https://doi.org/10.1186/2044-7248-1-7
Stone, H., & Sidel, J. L. (2004). Sensory evaluation practices (3rd ed.). Elsevier Academic Press.
Szczesniak, A. S. (2002). Texture is a sensory property. Food Quality and Preference, 13(4), 215-225. https://doi.org/10.1016/S0950-3293(01)00039-8
This, H. (2009). Molecular gastronomy: Exploring the science of flavor. Columbia University Press.
Ulung, A. K. (2024). An analysis of cultural, historical, and traditional values behind rendang in Indonesia’s gastrodiplomacy. Journal of Gastronomy and Tourism, 11(2), 240-251. https://doi.org/10.17509/gastur.v11i2.75901
Visković, N. R., & Komac, B. (2021). Gastronomy tourism: A brief introduction. Acta Geographica Slovenica, 61(1), 95-105. https://doi.org/10.3986/AGS.10258
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Anggyta Ismi Aulia, Mahmudi, Daniel Pandu Mau

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.









